Enter your keyword

post

PWM dan Aisyiyah Babel Sukses ikuti Tanwir 2021,Siap Jalankan Amanah Ketum PP, Hadapi Pandemi Dengan “rasional-ilmiah” dan “spiritual-ruhaniah

PANGKALANBARU – Tanwir Muhammadiyah dan Aisyiyah dengan tema “ Optimis Hadapi Covid-19 Menuju Sukses Mukmatamar ke-48 yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dari 26- 27 Muharram 1443/ 4 – 5 September 2021 M, sukses di ikuti oleh unsur para pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) dan Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Provinsi Bangka Belitung antar lain,KH.Kamarudin,AK( diwakilkan karena sakit), Fadillah Sabri,H.Fauza Akhmad, H.Syamlawi Achmad, H.Sahirman Jumli, KH.Hasan Rumata H.Warsangka, Hj.Suhada, Siti Aisyah dan lainnya, secara virtual zoom di Ruang Rapat Rektor Gedung Kampus Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Bangka Belitung.

“Alhamdulilah, Tanwir Muhammadiyah dan Aisyiyah Tahun 2021 dengan tema “ Optimis Hadapi Covid-19 Menuju Sukses Mukmatamar ke-48, telah selesai dan menghasilkan enam keputusan tanwir yang selanjutnya akan menjadi rumusan penting dalam pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-48 yang akan dilaksanakan 18 – 20 November 2022 di Surakarta Jawa Tengah, ”ujarnya.Ia menyebut bahwa PWM dan PWA Babel menghormati dan menerima sepenuhnya hasil keputusan tanwir 2021.

Untuk itu selanjutnya PWM, PWA Babel bersama PDM dan PDA se Babel akan segera melakukan pleno untuk menentukan langkah selanjutnya dalam Mukmatar Muhammadiyah ke-48 mendatang. Karena semua termasuk Unmuh Babel harus mendukung apa yang memang menjadi amanat dan harapan Pimpinan Pusat( PP) Muhammadiyah.

Fadillah Sabri menyebut bahwa sesuai dengan nasehat dalam pidato iftitah Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof.Dr.H.Haedar Nashir,M.Si. bahwa Muhammadiyah sangat penting untuk meletakkan musibah pandemi yang telah berjalan dua tahun ini sebagai “‘ām al-ḥuzni” atau “tahun duka”. Sebab telah betapa banyaknya korban sakit dan meninggal akibat virus corona ini baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

“Sehingga pendekatan burhani, bayani dan irfani secara interkoneksi sangatlah penting, guna menjadi dasar pandangan dalam memutuskan perkara yang berat (covid-19) dan berdampak luas ini.Dan empati ruhaniah juga sangat dibutuhkan untuk menempatkan 2 tahun pandemi covid-19 sebagai tahun kedukaan.

Para dokter, tenaga kesehatan, relawan dan berbagai pihak yang terlibat dalam usaha penanganan covid-19 , merasakan betul beban yang berat ini , banyak pula masyarakat di akar rumput yang terdampak secara sosial ekonomi dan psikososial yang tidak ringan akibat pandemi ini.

Keluarga Muhammadiyah sebagai umat beriman yang diajari ihsan dan huswahhasanah di dalam kehidupan, iman dan tauhid yang fungsional dari setiap muslim di uji di dalam menghadapi musibah Yang berat dan menjadi persoalan bersama ini , Muhammdiyah secara teologis memandang pandemi ini bahwa kehidupan dan kematian dengan seluruh siklusnya adalah sesuatu yang luhur, berharga dan bermakna, memahami.

“ Letakkanlah persoalan pandemi ini dalam dimensi iman, tauhid, dan ḥablun min-Allāh yang terhubung langsung dengan ḥablun min-an-nās, ilmu, ihsan, dan amal saleh yang bermakna, hidup, sakit, dan mati bukanlah persoalan praktis laksana barang murah yang mudah dibuang atau sekali pakai (disposable) dengan cara pandang keagamaan dan nalar verbal yang instrumental. Sebab hidup dan mati itu sangat berharga dan harus bermakna,”sebutnya.

Wawasan ideologis Muhammadiyah berbasis Muqaddimah dan Al-Ma‘un mesti direinterpretasi dan direaktualisasikan menghadapi pandemi Covid-19 serta masalah dan dimensi kehidupan lainnya ke dalam orientasi baru kemanusiaan yang membebaskan, memberdayakan, memajukan, dan mencerahkan kehidupan.

Muhammadiyah tidak meletakkan masalah pandemi ini pada tataran teknis instrumental tetapi memandangnya secara filosofis dan praksis dengan nalar interkoneksi bayani, burhani, dan irfani yang sarat makna. Panduan beragama yang dituntunkan Majelis Tarjih dan Tajdid dalam menghadapi pandemi Covid-19 selama ini menggambarkan pandangan multiaspek dan multiperspektif itu.

Muslim tidak boleh memiliki sifat “al-jubnu”, yakni takut berlebihan dalam menghadapi keadaan. Sebaliknya dilarang bersikap “tahawwur”, yaitu nekad tanpa perhitungan. Adapun sikap yang dianjurkan ialah “syajā‘ah”, yakni berani dengan seksama. Itulah ajaran “Wasathiyyah Islam”, Islam Jalan Tengah.

“Muhammadiyah dalam menghadapi pandemi Covid-19 dan masalah kehidupan lainnya selama ini mengembangkan sikap tengahan antara pendekatan “rasional-ilmiah” dan “spiritual-ruhaniah” dengan pendekatan bayani, burhani, dan irfani yang saling terhubung,”ajaknya.
Itulah Muhammadiyah Jalan Tengah. Sikap wasathiyah Muhammadiyah dalam memandang dan menyikapi pandemiCovid-19 maupun masalah kehidupan lainnya merujuk pada asas interkoneksitas “Maqāṣidu asy-Syarī‘ah”.

Aspek “ḥifẓ an-nafs” (menjaga jiwa), “ḥifẓ al-‘aql” (menjaga akal), “ḥifẓ al-māl” (menjaga harta), dan “ḥifẓ an-nasl” (menjaga keturunan) merupakan satu kesatuan yang terhubung dengan dan memiliki fondasi kuat pada “ḥifẓ ad-dīn” (menjaga agama). Kelimanya tidak dapat dipisahkan apalagi dipertentangkan, tetapi satu kesatuan utuh berfondasikan “ar-Rujū’ ilā al-Qur’ān wa as-Sunnah” dan ijtihad untuk menjawab problematika zaman.

“Muhammadiyah di tengah dinamika kehidupan yang berat dan kompleks ini dituntut mujāhadah yang semakin berkemajuan dalam menggerakkan segala usaha memajukan umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta,”tambahnya.

“Karenanya dengan jiwa tauhid yang lurus dan jernih disertai sikap insan yang kokoh, dan rendah hati, diperlukan empati , simpati, peduli, dan sikap kemanusiaan yang luhur dari seluruh keluarga Muhammadiyah dan bangsa dalam mengatasi musibah ini maupun dalam perjalanan kita kedepan yang masih menghadapi musibah ini.

Keluarga Muhammadiyah sebagai umat beriman yang diajari ihsan dan huswahhasanah di dalam kehidupan, iman dan tauhid yang fungsional dari setiap muslim yang di uji di dalam menghadapi musibah berat dan menjadi persoalan bersama ini. Muhammdiyah secara teologis memandang pandemi ini bahwa kehidupan dan kematian dengan seluruh siklusnya adalah sesuatu yang luhur, berharga dan bermakna.

Muhammadiyah dalam menghadapi pandemi Covid-19 dan masalah kehidupan lainnya selama ini mengembangkan sikap tengahan antara pendekatan “rasional-ilmiah” dan “spiritual-ruhaniah” dengan pendekatan bayani, burhani, dan irfani yang saling terhubung,”ajaknya.
Itulah Muhammadiyah Jalan Tengah. Sikap wasathiyah Muhammadiyah dalam memandang dan menyikapi pandemiCovid-19 maupun masalah kehidupan lainnya merujuk pada asas interkoneksitas “Maqāṣidu asy-Syarī‘ah”. Aspek “ḥifẓ an-nafs” (menjaga jiwa), “ḥifẓ al-‘aql” (menjaga akal), “ḥifẓ al-māl” (menjaga harta), dan “ḥifẓ an-nasl” (menjaga keturunan) merupakan satu kesatuan yang terhubung dengan dan memiliki fondasi kuat pada “ḥifẓ ad-dīn” (menjaga agama). Kelimanya tidak dapat dipisahkan apalagi dipertentangkan, tetapi satu kesatuan utuh berfondasikan “ar-Rujū’ ilā al-Qur’ān wa as-Sunnah” dan ijtihad untuk menjawab problematika zaman.

“Muhammadiyah di tengah dinamika kehidupan yang berat dan kompleks ini dituntut mujāhadah yang semakin berkemajuan dalam menggerakkan segala usaha memajukan umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta,”tambahnya.

Ia mengajak keluarga Muhammadiyah, dan bangsa ini untuk menumbuhkan sikap optimis dalam menghadapi pandemi dan masalah negeri lainnya seraya terus bermunajat kepada Allah ‘Azza Wa Jalla agar musibah Covid19 diangkat atas Kuasa-Nya dan kehidupan berjalan normal kembali secara lebih baik.

Semoga umat manusia di muka bumi saat ini belajar hikmah kehidupan dari musibah global ini untuk hidup makin dekat dengan Tuhan, mencintai sesama dan alam ciptaanNya, dan membangun peradaban yang tercerahkan dalam limpahan berkah-Nya.

No Comments

Add your review

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.