Enter your keyword

post

Dampak dan Upaya Pelestarian Satwa Liar

Dampak dan Upaya Pelestarian Satwa Liar

Upaya pelestarian satwa liar sangat penting untuk kehidupan kita, maka dari itu harus dilindungi dengan cara melakukan konservasi. Konservasi merupakan suatu upaya pelestarian dan perlindungan satwa liar dan tumbuhan dari kepunahan. Jika tidak, maka satwa-satwa liar dan tumbuhan yang berada di daratan maupun di lautan semakin punah akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Hancurnya habitat satwa liar oleh manusia tentu akan membuat mereka susah untuk bertahan hidup.

Sebagai contoh, satwa liar di laut akan punah akibat manusia yang sering membuang sampah sembarangan. Begitu halnya satwa liar yang ada di daratan juga punah akibat ulah manusia yang sering menghancurkan habitatnya. Seperti memburu dan lain-lain. Dampak negatifnya pun untuk kita sangatlah besar. Seperti kita akan kekurangan keanekaragaman hayati yang membuat ekosistem tidak seimbang, ketahanan pangan yang berkurang, dan keturunan-keturunan kita nanti tidak bisa melihat mereka secara langsung. Kita hanya bisa mengetahui mereka lewat cerita orang atau lewat sosial media saja.

Ada empat cara untuk menjaga dan melindungi satwar liar tersebut. Pertama, dengan menegakkan dan memperkuat hukum terhadap pelaku yang melakukan tindakan yang membuat satwa liar menjadi punah. Itu diatur dalam Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Pada Pasal 21 ayat 2, disebutkan bahwa setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi baik dalam keadaan hidup maupun mati. Bagi yang sengaja melakukan pelanggaran terhadap pasal yang dimaksud, maka bisa dipidana penjara hingga lima tahun dan denda paling banyak seratus juta rupiah. Sedangkan bagi yang lalai melakukan pelanggaran tersebut dapat dipidana kurungan paling lama satu tahun dan denda paling banyak lima puluh juta rupiah.

Kedua, menjaga habitat mereka dengan cara tidak melakukan penebangan, pembakaran, tidak membuang sampah sembarangan, tidak melakukan pengeboman, dan lain-lain. Ketiga, memanfaatkannya secara bijaksana agar mereka tidak punah dan tetap lestari. Dan, yang keempat kesadaran dari diri kita sendiri itu penting untuk menjaga dan melindungi satwa liar tersebut. Di sisi lain, banyak manfaat satwa liar di dalam kehidupan ini. Diantaranya sebagai bahan obat-obatan tradisional, mendorong stabilitas dan keseimbangan ekologi di dunia, meningkatkan ketahanan pangan, dan bermanfaat untuk generasi-generasi kita selanjutnya.

Penyelamatan Satwa

            Untuk melihat upaya satu upaya perlindungan satwa liar itu, penulis sengaja berkunjung ke Yayasan Pelestarian Flora Fauna Alobi Foundation. Alobi Foundation merupakan lembaga konservasi pusat penyelamatan satwa Bangka Belitung (Wildlife Resuce Center). Ada sekitar 15 ekor yang pelihara oleh PPS Alobi.

            Endi Yusuf selaku manager Alobi Foundation memberikan banyak pengetahuan dan cerita tentang seluruh satwa liar yang ada di bumi ini berstatus terancam punah. Ia bercerita misalnya, hasik pemantauan Alobi melalui media sosial Facebook. Facebook merupakan salah satu media sosial tempat banyak orang-orang melakukan perdagangan secara online berupa makanan, alat-alat rumah tangga. Bahkan satwa-satwa liar yang dilindungi maupun tidak dilindungi.

            Selama ini, jika ada orang-orang yang ketahuan melakukan perniagaan satwa liar yang dilindungi secara online maupun secara langsung, pihak Alobi segera bertindak. Pihak Alobi akan mendatanginya dan mengambil satwa-satwa tersebut, lalu mereka rawat ataupun dilepasliarkan. Sebagai contoh, pada 15 Maret 2022 lalu ada satwa liar Trenggiling yang masuk ke salah satu hotel di Bangka. Peristiwa itu terjadi karena adanya penyempitan habitat, yang disebabkan oleh Pertambangan ilegal, dan lain-lain.

            Menurut pihak Alobi, tentang upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya telah dijelaskan pada Pasal 21 ayat 2 Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990. Setiap orang dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa dilindungi dalam keadaan hidup dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak seratus juta.

Penangkaran penyu

            penangkaran penyu yang berlokasi di Pantai Tong Aci, Kampung Pasir, Jalan Laut, Sinar Baru, Sungailiat, Bangka. Adalah David yang merupakan pengurus pelestarian penyu di Pantai Tong Aci ini. Pantai Tong Aci didirikian di salah satu sudut Pantai Bangka dengan ide gagasan serta pendirinya Sean Sugito. Tujuan berdirinya adalah untuk melestarikan jenis reptil laut yaitu penyu. dimana keberadaannya sampai saat ini terancam punah.

            Sean Sugito asli putra daerah Bangka khususnya sungai liat. Dulu Sean Sugito pernah bercerita bahwasanya 30 tahun lalu banyak penyu yang naik ke darat untuk bertelur sepanjang garis pantai. Akan tetapi seiring perkembangan jaman dari waktu ke waktu seiring kondisi ekosistem yang sudah mulai rusak, akhirnya penyu lari ke daerah pesisir pantai yang jauh dari aktivitas manusia.

            Pada akhirnya tidak sebanyak dulu lagi penyu yang naik ke pesisir Pantai Tong Aci, bisa dihitung hanya beberapa ekor itu juga jarang. Biasanya penyu ditemukan di Pantai Tong Aci sebelah kanan. Sementara, penangkaran Tukik babel berdiri 28 Mei 2009 atas dasar untuk melestarikan jenis reptil laut. Secara umum kegiatan-kegiatan dilokasi penangkaran penyu ada 3 tahapan yang terpenting. Pertama adalah penetasan, kedua pemeliharaan dan ketiga pelepasliaran. Sekedar informasi di penangkaran penyu Pantai Tong Aci hanya memiliki 2 jenis penyu yaitu penyu hijau dan penyu sisik.

Cara pemeliharaan

            Cara pemeliharaan hewan penyu dengan memberikan pakan (ikan tamban/ pelet yang diolah). Sehari 2 kali pemberian pakan yaitu pagi dan sore. Kemudian kebersihan air, setiap hari air selalu diganti. Kebersihan tubuh penyu. Kebersihan tubuhnya dari lumut, kotoran selalu dibersihkan dengan spons yang halus terutama dibagian leher dan seluruh badan. Kalau di lautan mereka membersihkan diri mereka di dalam dasar pasir dengan cara di goyang-goyangkan. Jika sakit mereka akan diberikan vaksinisasi untuk antibodi dan vitamin.

Proses pelepasliaran

            Pelepasliaran dilakukan minimal umur penyu 1 tahun. Sebab, pernah dicoba baru netas sekitar 1 minggu atau 2 mingguan dilepasliarkan dan berkemungkinan untuk hidupnya kecil. Karena begitu mereka dilepas banyak hambatan di lautan. Seperti mereka akan terkena jaring-jaring nelayan dan dimangsa predator lain seperti ikan-ikan besar, lantaran daya renang mereka masih lemah.

            Penyebab penyu terancam punah adalah manusia karena manusia sering memburu tubuh dan dagingnya untuk dikonsumsi dan generasi-generasinya dari mulai telur juga diburu manusia, hewan lain seperti biawak, ular, burung elang, atau burung-burung pemakan daging lainnya. Dan juga penyempitan habitat yang dimana sudah mulai ada pertambangan timah yang membuat ekosistem di laut rusak, buang sampah sembarangan juga termasuk yang menyebabkan punahnya penyu.

UU perlindungan penyu

            Semua jenis penyu laut di Indonesia telah dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomer 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Hal ini berarti segala bentuk perdagangan penyu baik dalam keadaan hidup, mati, maupun bagian tubuhnya itu dilarang. Sedangkan menurut Undang Undang No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya pelaku perdagangan (penjual dan pembeli) satwa dilindungi seperti penyu itu dapat dikenakan hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta. Pemanfaatan jenis satwa dilindungi hanya diperbolehkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, dan penyelamatan jenis satwa yang bersangkutan.

            Kementerian dalam negeri juga telah memerintahkan pemerintah daerah untuk melakukan langkah-langkah perlindungan penyu dengan mengeluarkan Surat Edaran (SE) Mendagri Nomor 523.3/5228/SJ/2011 tanggal 29 Desember 2011 tentang Pengelolaan Penyu dan Habitatnya. SE itu menginstruksikan kepada para Gubernur untuk selanjutnya mengkoordinasikan kepada para Bupati dan Walikota serta intansi terkait di wilayahnya untuk melindungi penyu. Yaitu, melalui tindakan pencegahan, pengawasan, penegakkan hukum dan penindakan serta mensosialisasikan peraturan perundangan terkait, sekaligus pembinaan dalam rangka penyadaran masyarakat guna melindungi penyu.

            Selain itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam rangka melakukan penertiban terhadap pemanfaatan penyu dan turunannya juga telah menerbitkan SE 526 tahun 2015 tentang Pelaksanaan Perlindungan Penyu, Telur, Bagian Tubuh, dan/atau Produk Turunannya. Sedangkan dalam dunia internasional, semua jenis penyu laut telah dimasukan dalam appendix I yang artinya perdagangan internasional penyu untuk tujuan komersil juga dilarang (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna). Badan Konservasi dunia IUCN juga memasukan penyu sisik ke dalam daftar spesies yang sangat terancam punah, sedangkan untuk jenis penyu hijau , penyu lekang, dan penyu tempayan digolongkan sebagai terancam punah.

            Maka dari itu, yuk kita jaga satwa liar dengan menerapkan prinsip 3P. Terdiri dari Perlindungan (melindungi ekosistem penyangga kehidupan), Pengawetan (mengawetkan keanekaragaman hayati), dan Pemanfaatan (memanfaatkannya secara bijaksana). Semoga bermanfaat! (Shakila Panita KSDA)

No Comments

Add your review

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.