Enter your keyword

post

Peran Perguruan Tinggi, Bersiap Hadapi Bonus Demografi Penduduk 2025

PANGKALPINANG – Wakil Gubernur Abdul Fatah, mendorong masyarakat penggerak di lingkungan dunia pendidikan khususnya perguruan tinggi agar ikut membantu tugas pemerintah dalam mengendalikan laju angka pertumbuhan penduduk. Sebab akan menjadi salah satu tugas penting dalam menghadapi bonus demografi penduduk tahun 2025.

Sebab jika angka pertumbuhan penduduk semakin tak mampu terkendali dengan baik, maka inilah yang akan menjadi boom waktu dalam berbagai dimensi persoalan sosial yang rumit diselesaikan di masa –masa mendatang.

Hal ini merupakan salah satu hal yang disampaikan Wagub Abdul Fatah saat ditemui Tim Humas Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Bangka Belitung , usai mengunjungi Kampung KB Mentari Pangkalarang Kelurahan Ketapang Kota Pangkalpinang dalam rangka Peringatan Hari Keluarga Nasional 2021, akhir Juni lalu bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia, Muhajirin Effendi secara zoom online.

Laju pertumbuhan penduduk mestinya dapat terkendali dengan baik, supaya lebih terkonsentrasi untuk membebaskan generasi muda Indonesia sehat bebas dari acaman stunting ( kerdil fisik dan kerdil IQ) sehingga mampu mewujudkan kualitas sumber daya manusia yang berkualitas dan cerdas, bonus untuk 100 tahun Indonesia merdeka pada 2045 mendatang.

Kata dia, dalam persoalan ini termasuk menyangkut masalah pengendalian laju angka pertumbuhan penduduk. Perlu peran dari seluruh element masyarakat tak terkecuali perguruan tinggi. Karena SDM-SDM yang ada di perguruan tinggi isinya adalah generasi muda yang harus ikut memberikan tanggungjawab terhadap masalah-masalah sosial.

“Ayo donk SDM-SDM yang ada di perguruan tinggi termasuk Unmuh Babel, harusnya lebih peka dan rajin melakukan sosialisasi, beritahunkan dan ajak kaum muda untuk menunda usia perkwainan usia di usia dini.

Ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda mampu merencanakan waktu perkawinan dan kelahiran secara lebih matang. Sehingga harapan kita generasi yang akan dilahirkan bebas dari ancaman stunting dan tumbuh menjadi SDM yang unggul dan sehat,”harapnya seraya menyebut bahwa angka stunting Bangka Belitung mengalami penurunan di angka 4,855 % sampai tahun 2020.

Sementara itu, dr.Novianti selaku Koordinator Ketahanan Keluarga Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bangka Belitung juga mendorong peran perguruan tinggi sebagai agent untuk membantu tugas pemerintah melakukan sosialisasi maupun pusat informasi konseling untuk remaja yang biasa disebut Pusat Informasi Conseling (PIC) remaja dari tingkat SMP – perguruan tinggi.

Pentingnya peran lembaga pendidikan termasuk lembaga perguruan tinggi dalam membantu sekaligus mengajak masyarakat untuk menyuarakan yang namanya penundaan usia perkawinan usia dini yang disarankan oleh BKKBN dari usia 10 – 24 tahun atau WHO dari usia 10 – 18 tahun.

Ini menjadi penting supaya nanti anak-anak kita mampu konsentrasi menyelesaikan wajib pendidikannya minimal 12 tahun. Ini menjadi pertimbangkan penting dari aspek pshiko sosialnya termasuk kesehatan reproduksi yang harus terpenuhi secara hak-haknya tepat waktu dan layak.

“ Kita ada sekolah siaga kependudukan yang akan masuk ke perguruan tinggi-perguruan tinggi termasuk anak-anak sekolah. Oleh karenanya kami juga senantiasa mendorong peran serta SDM-SDM di lembaga pendidikan atau perguruan tadi melalui sekolah ini, supaya kita mampu mempersiapkan lahirnya generasi muda Indonesia yang sehat, cerdas dan berakhlak mulia.

Lurah Ketapang Kecamatan Pangkalarang, Rizki Ramdani mengaku akan terus berupaya mengajak peran serta seluruh element masyarakat untuk mempertahankan Ketapang sebagai Kampung KB Paripurna.

Kelurahan Ketapang yang juga merupakan salah satu daerah Binaan Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Unmuh Babel ini berhasil melaksanakan program kampung KB yang sangat aktif. Kader-kader KB yang terus terus bekerja di tengah pandemi ini untuk memberikan pendampingan konsultasi perlunya penundaan perkawinan usia dini, maupun memberikan makanan tambahan kepada ibu , bayi dan balita.

“Sehingga harapan kita dari upaya berkelanjutan ini sekaligus mampu membebaskan masyarakat dari bahaya stunting yang berpotensi menghasilkan manusia kerdil secara fisik tetapi juga daya pikir (IQ), demi pembangunan manusia Indonesia berkelanjutan cerdas dan sehat,”tambah Riski lagi.(Humas/Unmuh Babel).

No Comments

Add your review

Your email address will not be published.