Enter your keyword

post

Menanam Harapan, Ikhtiar dan Optimisme Mengelola Lahan Kritis di Babel Bersama Staekholder

Ngaji Ramadan Penuh Makna bersama Forum Daerah Aliran Sungai (Fordas) Bangka Belitung Edisi 1, yang diselenggarakan secara virtual zoom berlangsung lancar dan hikmat ,Selasa(27/04) sore. Ngaji Ramadan yang mengangkat tema “ Menanam Harapan di Lahan Kritis” ini menghadirkan para tokoh pecinta lingkungan dan narasumber berkompeten di Bangka Belitung, seperti Ketua Fordas Babel, Fadillah Sabri,S.T.,M.Eng, Kepala Dinas kehutanan Kepulauan Bangka Belitung, Marwan S.Ag, Kepala BPDASHL Baturusa Cerucuk KLHK Provinsi Bangka Belitung, Ir. Tekstiyanto,M.P, Divisi K3HL PT.Timah Tbk, Topan Randi Wijaya,S.Hut, Ketua Komunitas Bangun Desa dan Penggerak Reklamasi, Arif Hidayat,S.E. Acara ini juga mengundang antusiasme dari berbagai tokoh masyarakat dan aktivis pecinta lingkungan di Bangka Belitung maupun luar Bangka Belitung.

Ngaji Ramadan kali ini di pandu oleh host dan moderator Ketua Fordas Babel sekaligus Rektor Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Bangka Belitung , Fadillah Sabri,S.T.,M.Eng yang juga didampingi rekannya Novri.

Ketua Fordas Babel, Fadillah Sabri menyebutkan bahwa acara ngaji ramadan penuh makna bersama Fordas Babel edisi 1 ini juga merupakan bagian dari kegiatan amal untuk membantu saudara-saudara yang membutuhkan, sehingga hasil registrasi dan donasi untuk Fordas DAS berbagi di Desa Binaan yaitu di Desa Riau Silip.

Ia menjelaskan bahwa sesuai dengan tema yang di angkat dalam forum Ngaji Ramadan penuh makna bersama Fordas Babel edisi 1 kali ini, yaitu menanam harapan di lahan kritis. Sehingga kegiatan ini diharapkan dapat semakin menjadi pematik bagi semua pihak untuk terus semangat berikhtiar menyelamatkan bumi Bangka Belitung dari dampak kerusakan lingkungan yang semakin lebih besar.

”Kita wajib bersyukur dan mari terus ikhtiar menyelamatkan lingkungan dari ancaman kerusakan yang lebih besar lagi, meskipun memang tidaklah mudah, tapi saya yakin masih banyak komunitas yang diisi orang-orang baik, yang peduli dan mau diajak untuk menyelamatkan negeri ini,”ujarnya.

Fordas Babel sebagai salah satu organisasi lingkungan yang dilindungi undang-undang telah menjadi bagian dari masyarakat dan akan terus mengajak untuk berikhtiar demi melindungi lingkungan Babel ini demi anak cucu di masa depan, yakni paling tidak adalah dengan tidak meninggalkan semua lingkungan Babel ini untuk dirusak, termasuk dengan acara menanam pohon atau melakukan penghijauan. Sebab menanam pohon adalah bagian dari sedekah, sebagaimana sabda Rosulullah, Muhammad S.A.W “Seorang muslim tidak menanam tanaman kecuali apa yang dimakan dari tanaman itu menjadi sedekah baginya. Apa yang dicuri dari tanaman itu menjadi sedekah baginya.

”Oleh karena itu tetaplah menanam, tetaplah lah ikhtiar, karena saya yakin kita semua memiliki tanggungjawab yang sama untuk membawa negeri ini selamat dari kerusakan bahkan menjadi lebih baik,”tegasnya.

Kepala Dinas kehutanan Kepulauan Bangka Belitung, Marwan ,mengakui bahwa kondisi lahan kritis di Babel sangatlah banyak, namun demikian berbagai upaya penyelamatan lingkungan juga terus dilakukan dan mendapatkan perhatian dari berbagai pihak baik oleh instansi pemerintahan seperti BPDASHL, perusahaan dan komunitas pecinta dan penyelamat lingkungan di masa penanaman maupun pasca penanaman.”Saatnya kita perlu merubah mindst kita dari hanya menambang menjadi habit menanam, namun semua ini pun tentu butuh konsisten secara kontinyu,”ajaknya.

Kepala BPDASHL Baturusa Cerucuk KLHK Provinsi Bangka Belitung, Ir. Tekstiyanto,M.P menyebut bahwa lahan kritis sesungguhnya adalah kerusakan pola pikir manusia itu sendiri, lahan kritis yang berupa lahan rusak, bekas tambang dan sebagainya juga merupakan hasil pemikiran dan perilaku manusia. Sedangkan perbaikan lahan kritis harus dilakukan dari perubahan paradigma untuk berbuat yang terbaik bagi kelangsungan hidup.

Oleh karena itu BPDASHL Baturusa Cerucuk KLHK Bangka Belitung sesuai dengan Peraturan LHK No.P.105/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang tata cara pelaksanaan , kegiatan pendukung, pemberian insentif serta pembinaan dan pengendalian kegiatan rehabilitasi hutan lahan, juga terus berupaya termasuk dengan 75 % (tujuh puluh lima persen ) adalah melalui pendampingan kepada kelompok masyarakat, sebab mendapatkan kepercayaan masyarakat itu sangatlah penting, agar mau diajak bersama untuk secara berkelanjutan menyelamatkan lingkungan dari dampak kerusakan yang lebih jauh.

”Kami membuat sistem pengerjaan dengan langkah melakukan pemberdayaan masyarakat, kami melakukan swakelola untuk memampukan proses transper teknologi dan informasi serta swakelola bekerja dengan prinsip transparan, jujur dan adanya rasa memiliki dan tanggungjawab,”ujarnya.

BPDASHL Baturusa Cerucuk KLHK Provinsi Bangka Belitung, juga telah melakukan sejumlah langkah reboisasi intensif sejak tahun 2017 yakni antara lain di Hutan Lindung Sungai Brang Desa Juru Seberang Kecamatan Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung seluas 160 Ha.Yang dilakukan bersama kelompok HKm Seberang Bersatu.

Tahun 2018 melakukan reboisasi intensi di hutan lindung Jenu Mentol Tanjung Ular, Desa Simpang Gong Kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat seluas 35 Ha. Reboisasi ini dilakukan bersama Gapoktan Gong Bergema. Kegiatan rehabilitasi Mangrove tahun 2019 di hutan lindung pantai Rebo Desa Riding Panjang Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka seluas 10Ha bersama kelompok masyarakat KTH Timur Bersinar. Reboisasi di hutan lindung Belinyu Desa Air Jungkung seluas 13 Hektar. Reboisasi dengan penamaman jambu mente di lokasi eks tambang di Kabupaten Bangka Tengah dan lainnya.

Divisi K3HL PT.Timah Tbk, Tofan Randy Wijaya,S.Hut menyebut bahwa PT.Timah Tbk sebagai salah satu perusahaan tambang timah juga terus melakukan tanggungjawabnya yakni dengan melakukan reklamasi di lahan Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT.Timah. Karena reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk menata, memulihkan dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai dengan peruntukannya (Permen ESDM No.26/2018).

Hal ini diakui Tofan karena lahan bekas tambang timah merupakan lahan dalam kategori tidak subur yang umumnya didominasi pasir tailing, kandungan unsur makro dan mikro dalam tanah sangat rendah. Top soil terbatas bahkan hilang, sifat air tanah asam (PH 4-5), miskin unsur hara, daya pengikat air rendah, mudah tererosi, mikrobiologi rendah.

”PT. Timah sudah melakukan konsep kampung reklamasi yang sekaligus menjadi sarana uji kami menggunakan teknologi untuk perlindungan lingkungan sekaligus menjadi berbagai fungsi kawasan seperti budidaya holtikultura, wisata rumah panggung, tanaman buah, petrenakan sapi dan pusat perlindungan satwa. Reklamasi tidak hanya di darat tetapi juga dilakukan hingga ke dasar laut dengan berbagai tahapan mulai dari pembuatan media transpalantasi karang fish shelter, penenggelaman media transplan, fish shelter, transpalan karang dan pemantauan,”ujarnya.

Ia mengakui dalam proses reklamasi ini juga banyak mengalami kendala yang harus dihadapi khususnya bagaimana program-program terobosan dalam rangka mereklamasi lahan bekas tambang timah yang telah dilakukan dapat berkelanjutan. Kendala tersebut mulai dari produktivitas hasil yang masih rendah yang berpengaruh terhadap keuntungan hasil panen, sehingga tidak menarik minat masyarakat, bagaimana menanam jenis tanaman yang diminati masyarakat di dalam kawasan hutan, biaya reklamasi dan sulitnya mencari kelompok tani atau masyarakat yang konsisten dan berkelanjutan secara mandiri.

” Saat ini salah satu upaya yang kami lakukan memanfaatkan transpalansi karang sekaligus sebagai media untuk budidaya telur cumi yang akan menempel pada karang-karang buatan yang kita tenggelamkan, telur-telur cumi ini kemudian akan kita pindahkan ke tempat budidaya atau tambak yang telah kita siapkan secara khusus. Upaya ini kita lakukan bekerjasama dengan Fakultas Biologi dan Perikanan Universitas Bangka Belitung (UBB) dan kami optimis setidaknya di 2021 ini kita bisa menghasilkan minimal 20 ribu ekor cumi, yang memang di pasaran untuk kualitas cumi Bangka ini cukup potensial dari segi harga maupun peminatnya yang menyukai taste cumi Bangka lebih memberikan sensasi berbeda dari cumi daerah lain,”tambah Tofan lagi.

Ketua Komunitas Bangun Desa (Kombad) dan Penggerak Reklamasi, Arif Hidayat mengaku siap mendukung berbagai program reklamasi perlindungan lingkungan pasca tambang di Bangka Belitung. Dalam hal ini tentunya juga harus melibatkan peran serta masyarakat.
Ia mengaku bahwa Kombad juga sudah menyiapkan konsep reklamasi terpadu yang telah diusulkan termasuk kepada PT.Timah Tbk untuk di 110 hektar lahan eks tambang milik PT.Timah di Desa Kace, namun saat ini baru 10 hektar yang bisa dilaksanakan untuk dikembangkan.
“Sebagiannya lagi Kombad masih mendapatkan tantangan untuk mengembangkannya, mengingat sudah ditanami dengan lahan kebun kelapa sawit oleh sejumlah perusahaan, sehingga ini sekaligus akan membuat sulit Kombad menentukan tapal batasnya,” sebut pria yang akrab disapa Ahay ini.

Kombad menggandeng sejumlah perusahaan sawit tersebut termasuk juga Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Bangka Belitung untuk membuat kompos cair yang ke depan akan dapat kita manfaatkan di lahan kritis eks tambang.

“Berbagai upaya yang Kombad lakukan ini juga kita rintis untuk menjadi lahan bisnis bagi masyarakat di daerah terdampak pasca tambang, sehingga ke depan kita harapkan tetap mampu memberikan dampak sosial dan ekonomi yang lebih baik. Dan InshaAlloh kami yakin masih masyarakat yang mau kita ajak dan mendukung program-program semacam ini,”ujar Ahay optimis.( Humas/Unmuh Babel)

No Comments

Add your review

Your email address will not be published.