Enter your keyword

post

Ketua MGBK Babel : Sistem Vokasi dan Dunid Industri di SMA Belum Link And Match

Ketua Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) Provinsi Bangka Belitung, Abdillah Arif, M.Pd menilai, khususnya para orang tua siswa tidak bisa berlepas tangan atau tanggungjawabnya lepas begitu saja ketika mendelegasikan kewenangan mendidiknya selaku orang tua kepada pihak sekolah.

Artinya semua pihak itu harus terlibat, baik orang tua, lingkungan, masyarakat, sekolah dan pemerintah untuk bagaimana caranya, agar seorang manusia terdidik itu, bukan hanya semata-mata terdidik secara kognitif ,tidak hanya semata-mata punya bekal ijazah melainkan dia punya beka keterampilan-keterampilan yang lain dan juga punya kemampuan bersosialisasi dan berkomunikasi.

“Dan ini tumbuhnya bukan hanya di sekolah tetapi juga dirumah dan di lingkungan masyarakat si anak tinggal. Sebab inilah yang akan membekali seseorang untuk bisa bekerja , berkiprah, berprofesi , berkarya, berwirausaha, tetapi kalau sekolah semata-mata dijadikan tempat untuk mendapatkan ijazah yang diharapkan jadi modal kerja, ya itu salah dan tidaklah tepat,’ujar Abdillah Arif.

Menurut guru Bimbingan dan Konseling (BK) yang satu ini bahwa ijzah sebenarnya adalah sebagai bukti bahwa seseorang itu pernah sekolah. Oleh karenanya lebih dari ijazah, maka siswa juga musti mempunyai kompetensi atau kemampuan yang harus diaktualisasasikan, harus bisa bunyi dan harus bisa digunakan.”Saya yakin semua anak-anak kita punya potensi dan sangat dimungkinkan untuk mereka bisa melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang pendidikan tinggi,”ujar Arif.

Arif juga menilai bahwa keterbatasan sistem pendidikan yang ada saat ini masih membutuhkan berbagai pembenahan yang lebih baik. Salah satunya adalah menyangkut sistem penerapan ilmu keterampilan atau pendidikan vokasi dan dunia industri yang belum banyak terberi atau belum banyak dimiliki secara teknis untuk anak-anak terutama anak-anak tingkatan SMA.

Ia menjabarkan, syarat pertama terciptanya link and match antara vokasi dengan dunia industri adalah pembuatan kurikulum bersama. Di mana kurikulum tersebut harus disinkronisasi setiap tahun dengan industri. “Harus disetujui,” katanya.

Ini agak berbeda dengan SMK yang sedikit banyak sistem pendidikan vokasi dan dunia industri sudah terberikan sesuai dengan bidang kompetensinya, sehingga anak-anak SMK bisa punya skill atau keterampilan disamping teori pembelajaran pokoknya sedangkan kalau di SMA kita lihat memang belum. Sehingga saat menyelesaikan studinya di sekolah lulusan SMK bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi sembari menerapkan keterampilan skill yang telah di kuasainya sebagai bekal hidup bahkan membuka lapangan pekerjaan baru.

“Keterbatasan penerapan sistem pembelajaran bidang keterampilan khusus di tingkat SMA yang memang belum maksimal, namun hal ini tidak boleh pula menjadi penghambat bagi anak-anak SMA untuk berkarya, untuk punya rencana karier ke depan. ”Dunia pendidikan , dunia pekerjaan itu harus diakui, karena kondisinya yang memang belum benar-benar terhubung, belum link and match antara vokasi dan dunia industri,”ujarnya.

Oleh karena itu, Arif juga menyebut bahwa kehadiran pemerintah selaku pembuat kebijakan, diharapkan bisa menghubungkan itu , bisa menjadi jembatan , menjadi fasillitator yang menghubungkan antara lembaga pendidikan dengan dunia pekerjaan, dunia usaha, dunia industri, sehingga apa yang dibutukan dunia usaha dan dunia industri maupun dan apa yang disiapkan di dunia pendidikan akan lebih saling nyambung dan saling terhubung.

“Ini sangat penting supaya fungsi masing-masing lembaga baik itu pendidikan dan dunia usaha saling menyambung, dan justeru tidak menjadi sia-sia, terlebih bagi lembaga sekolah yang memang bisa terpakai untuk bekerja,”tambah Arif lagi.(Humas/Unmuh Babel)

No Comments

Add your review

Your email address will not be published.