Enter your keyword

post

Perlu Konsisten Dalam Kebijakan Selamatkan Lingkungan

Perlu Konsisten Dalam Kebijakan Selamatkan Lingkungan
Fadilah : Jangan Cepat Berubah-Rubah

Rektor Universitas Muhammadiyah (UNMUH) Bangka Belitung ini sekaligus tokoh penggiat penyelematan lingkungan Bangka Belitung, Fadilah Sabri, menanggapi terkaitnya dengan konsep pemerintah daerah Bangka Belitung yang ingin membuat program food estate, yakni sebuah program dimana, kawasan hutan juga diizinkan menjadi sebagai lahan ketahanan pangan dan sejenisnya. Akan hal ini pihaknya juga mempertanyakan apakah ini memang dilaksanakan untuk masyarakat saja atau bagaimana ? Sebab bukan tidak mungkin kalau izinnya juga akan dibuka untuk perusahaan atau investor besar.

pria yang juga merupakan peneliti ini juga mengaku sudah mengantongi data yang menunjukan bahwa ternyata bagaimana disetiap kabupaten kota itu ada yang namanya hutan lindung digunakan untuk kepentingan yang tidak sesuai fungsinya bahkan menyalahi aturan.

Termasuk jumlah kulong yang berdasarkan kawasan hutan, seperti di kawasan hutan lindung itu ada 5, 8 persen atau hampir 6 persen, padahal seharusnya tidak boleh terjadi. Sebab bisa dipastikan jika di hutan lindung ada kolong, maka artinya disana juga terjadi aktivitas penambangan. Sisanya kulong-kulong ini juga tak ketinggalan merambah kawasan hutan hak pengguna lain (HPL) termasuk di hutan suaka alam yang mencapai. 0,62 persen.

Karenanya, pemerintah seharusnya tidak perlu banyak pencitraan, ceremonial, tetapi sudah seharusnya konsisten dan bukannya berubah-rubah kebijakan. Apalagi menyangkut kebijakan terhadap penyelamatan lingkungan.
“Program hari ini menanam, tapi disatu sisi ada pihak atau orang yang merusak bahkan terkesan sakti dari hukum, kasus sijuk saja misalnya entah apa kabar kelanjutannya dan penyelesaiannya hingga kini , oleh karenanya mari kita lakukan upaya-upaya untuk pelestarian lingkungan ini secara konsitsen dan hanya sekedar aksi kegiatan-kegiatan penanaman yang sifatnya itu pencitraan semata,”sebut Fadilah Sabri.

Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (Fordas) Bangka Belitung yang satu ini mengaku, sekarang dirinya cenderung malas untuk mengikuti berbagai kegiatan penanaman yang sifatnya lebih cenderung ceremonial belaka. Kadang lucu, sebab tak hanya sekedar ceremonial dan setelah itu lalu di ekspos media-media, dan ini selalu terulang. Saya yakin sebenarnya tidak ada masalah dengan niatnya, tapi hari ini nanam jambu mente, tapi besok berubah lagi nanam porang, kapulaga dan sebagainya. Ayolah mulai sekarang lakukan analisis yang matang, libatkan perguruan tinggi, libatkan masyarakat yang bener.

Fadilah Sabri juga menyebut bahwa Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDAS HL) Baturusa Cerucuk Bangka Belitung misalnya juga sudah sangat ikut terlibat dalam aksi penamanam jambu mente yang di gagas Pemprov Babel. Akan tetapi hal ini lalu jangan sampai kesannya ingin buru-buru saja termasuk membuat sebuah kawasan produksi yang besar.

“ Nanti dulu lah, toh baru 2 tahun juga nanamnya. Yang sabar dong, dan tolong sekali lagi , karena jangan kita itu bekerja, karena hanya ingin menyelesaikan jabatan kita, apalagi jabatan politik. Sebab tidak ada pula orang hari ni bekebun, nanam besok langsung berhasil , sebab sekali lagi kalau memang kita memkirkan anak cucu kita , mikir untuk lingkungan kita , ayo buatkan tim yang khusus, jangan terlalu over lah banyak maunya tapi tidak terorganisir dengan baik dan tidak tersistem dengan baik pula,”ajak Fadilah Sabri.

Fadilah mengaku dirinya “gemas” untuk menyoal kepada pemerintah, sebab wajar, karena pemerintah adalah pihak yang dianggap masyarakat punya segala-galanya. Sedangkan pihak kampus khususnya sifatnya adalah sebagai pensupport atau penunjang melalui hasil-hasil kajian atau penelitian yang telah dilakukan.
“Saya tanya sekarang mana program perioritas pak gubernur sekarang yang diturunkan ke pemda-pemda atau di kabupaten/kota , harusnya lihat dulu karakteristik masing-masing daerah itu, harusnya tidak di pukul rata, misalnya bangka barat, apa karateristiknya, toh kalau mau di jadikan heritage city ya , begitu pun Pangkalpinang sebagai kota jasa atau kabupaten lainnya, silahkan saja dan harus konsisten,”sebutnya.

Ia kembali menegaskan bahwa hutan di Babel sudah gundul dan memperihatinkan. Oleh karena itu perlu upaya penyelamatan secara serius dalam gerakan 3 T, yakni Terencana,Terukur, Terlaksana. Ia menambahkan bahwa seorang manusia umumnya akan mengalami kesulitan di hidupnya apabila tidak bisa meminage dirinya ditambah lagi banyak kemauan.”Boleh saaja banyak mau, tapi harus mengukur diri juga, apakah kuat atau tidak menjalankannya, makanya saya juga ingin tanyakan sekarang ke Pemda, sudah ada, sudah serius belum menanangi masalah perbaikan lingkungan di Babel ini,”tambahnya.

Ia juga menyinggung bahwa selama ini Babel sebenarnya sudah mempunyai yang namanya Peraturan Daerah Aliran Sungai (DAS) No.10 Tahun 2016, namun nyatanya hingga kini Perda tersebut cenderung “dianggurin” bahkan juga tidak dilaksanakan oleh Pemda.
“Apa gunanya kalau begitu sudah susah- susah, mahal pula bikin Perdanya tapi nggk dilaksanakan. Saya katakan yang begini, karena saya orang Fordas, bagian tak terpisahkan dari situ,”ujarnya lagi.

Menurutnya kondisi kerusakan alam di Indonesia memang harus menjadi konsentrasi serius semua pihak termasuk menyelamatkan posisi Indonesia sebagai bagian dari paru-paru dunia terutama Pulau Kalimantan. Bagi dirinya, ia mengaku justeru bersyukur karena ibukota indonesia tidak jadi pindah ke kalimantan, sebab kalau jadi, maka bisa habis semuanya, sebab paru-paru dunia itu di kalimantan, bahkan sekarang Kalimantan Selatan sudah banjir dan bahkan habis hutannya. MasyAlloh, tinggal berapa persen lagi, apalagi yang sekarang ini ada namanya hutan kemasyarakatan sebagainya.

“Sebab kita mengkhawatirkan kondisi semacam ini, khawatirnya kalau nanti dijual pula, untuk alih fungsi, kepentingan lainnya, sekelompok orang dan sebagainya, maka hemat saya ini sudah saatnya semua pihak termasuk pemerintah, khususnya komponen di Babel ini untuk memahaminya dengan benar dalam menyelamatkan bumi kita demi masa depan anak-anak cucu kita dimasa depan,”ujar bapak 5 anak ini (Humas/ UNMUH Babel)

No Comments

Add your review

Your email address will not be published.