Enter your keyword

post

Ketua Fordas Babel Nilai, Ini Sebab Banjir di Babel Sering Terjadi

Tokoh pendidikan dan dosen senior alumni pasca sarjana, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM) dari Bangka Belitung, Fadilah Sabri menjadi salah satu tokoh yang memberikan gambaran keperihatinan atas kondisi alam di Bangka Belitung yang disebutnya sudah mengalami kerusakan sangat signifikan. Ia mencontohkan seperti di Sungai Baturusa, Sungai Selindung yang beberapa hari lalu sempat membuat repot para pengendara yang lewat di jalan raya Pangkalpinang Sungailiat, karena pengendara harus menghindari banjir yang meluber sampai ke tengah jalan. Hal ini bukan saja karena terjadinya air pasang besar tetapi juga di perparah dengan hujan yang sempat terjadi dalam seminggu terakhir kemarin.

Ia menilai, secara intesitas banjir tidak begitu besar, tapi intervalnya panjang. Maka dengan demikian waktu konsentrasinya otomatisnya semakin pendek. Jadi maksudanya, sebenarnya akibat hujan itu tidak ujuk-ujuk langsung membuat banjir, sebab pasti ada waktu untuk pengumpulan air dulu dari mulai hulu sampai titik meluapnya, ini tentu butuh waktu.
“Seharusnya waktu konsentrasinya penyebab banjirnya lebih panjang, tapi ini justeru ini waktu konsentrasinya pendek, bahkan waktu hujan terjadi kemarin langsung terjadi banjirnya, karenanya ini pasti ada penyebab lainnya bahkan bisa jadi lebih serius,”tandas Fadil.

Pohon merupakan tempat resapan air sekaligus penyangga dari terjadinya percepatan “berkumpulnya “ air, sebab kalau tidak ada pohon, maka waktu pengumpulan air di waktu hujan menjadi pendek dan tidak ada yang menyangga, dan pada akhirnya inilah yang dapat mengakibatkan debit limpasan besar, karena jika koefisien aliran permukaan (run off coefficient) sudah semakin besar, maka ini juga ada hubungannya dengan tutupan lahan, dimana jika tutupan lahannya itu semakin sedikit apalagi gundul, sehingga saat terjadi hujan, kemudian koefisien tadi misalnya 0,8 maka berarti 80 persennya menjadi limpasan dan sisanya hanya 20 persen yang menyerap. Padahal seharusnya koefisien kecil, misalnya 0,3 atau 0,4, sehingga berati air yang tertahan bisa mencapai 60 persen dan yang jadi limpasan 40 persen.

Jika semakin kecil nilai koefisien itu, maka semakin kecil debitnya, dan ini juga akan berbanding lurus dengan luasan. Artinya jika sebaliknya luasan lahan yang gundul itu lebih luas, maka otomatis debitnya akan besar, dan inilah yang terjadi di Babel sekarang ini. Karena dengan berkurangnya luasan tutupan lahan.

Misalnya tadi awalnya daerah A hutan semua, kemudian 50 persen jadi pemukiman atau bahkan jadi lahan pertambangan, sehingga akibatnya kalau tidak ada lagi pohon, lantas apa selanjutnya bisa menahan air tersebut , dan akibatnya ketika hujan banjir bisa meluap kemana-mana. Karenanya sangat penting untuk selalu menjaga keseimbangan 3 parameter penting yakni fungsi hujan, fungsi luasan dan fungsi tutupan lahan.

Ia melanjutkan, kalau lah ada hujan yang turun ke satu kawasan atau pada luasan tertentu, namun tutupan lahan itu masih bagus, maka air akan tertahan, sehingga debitnya kecil, luapnya kecil, sebab banyak yang masih tertahan, misalnya ini di hulu dan hilir dan terjadi hujan, tentu tidak lah begitu masalah selama masih banyak peyangga tadi yang bisa nahan. Dan mengalirnya juga akan lebih lama.

Namun sebaliknya jika keadaannya sudah tidak ada lagi yang menahan ditambah di sini hujan, disana hujan, maka otomatis akan terjadi serentak banjirnya. Dan karenanya tak heran pula, jika 2 jam saja sudah banjir, apalagi kalau seperti kemarin bahkan sudah lebih dari 6 jam tenggelam lah Pangkalpinang, sebab tidak ada lagi yang menahannya, namun Pangkalpinang masih sedikit terbantu dengan adanya kolam retensi kacang pedang yang memang masih dalam pemeliharaan termasuk dengan digali terus sampai sekarang, sehingga bisa menampung air lebih besar.

“Tapi coba kalau dangkal, ditambah dengan dampak sedimentasi kiriman dari dari kace, pendindang dan sekitarnya yang terbuang ke kolam retensi. Maka Kolam retensi Kacang Pedang bisa menerima berapa kubik endapan, bahkan kasarnya bisa dibuat untuk batu bata,”sindirnya lagi.

Jika keseimbangan alam sudah tak lagi mampu berjalan sebagaimana fungsi seharusnya atau sudah terganggu, maka yang akan terjadi adalah timbulnya konflik termasuk manusia dengan buaya atau dengan apapun. Akan terjadi saling menyerang.
Dan juga, berubahnya tata guna lahan dari hutan yang heterogen menjadi homogen, seperti menjadi kebun sawit, maka koefisiennya juga pasti akan ikut berbeda, sebab hutan yang homogen dengan hutan yang hitorogen tentunya berbeda karakteristiknya. Yang mana kalau yang hutan heterogen itu isinya bermacam-macam pohon-pohonya sedangkan kalau sudah berubah jadi hutan homogen yang isinya hanya satu pohoh misalnya kebun sawit semua, apalagi ini akan berlangsung lama atau dijadikan dalam upaya kebunisasi sawit dan sejenisnya, maka akan menyebabkan perubahan ekosistem.( Humas/ UNMUH Babel).

No Comments

Add your review

Your email address will not be published.