Enter your keyword

post

Fadilah Sebut, Motif Buaya Serang Manusia, Lapar dan Rumahnya Dirusak

Kegiatan perambahan hutan, rusaknya alur sungai yang berubah fungsi menjadi tempat beroperasi kegiatan pertambangan, perkebunan, pemukiman dan sebagainya yang sudah begitu masif di Bangka Belitung hingga saat ini. Padahal hutan adalah penyangga utama dari limpasan dalam mencegah terjadinya akibat turunan seperti banjir, longsor dan lainnya.
“Sebab biasanya kalau ada banjir biasanya juga bisa jadi akan longsor , sedimentasi juga akan ikut, pendangkalan sungai , rusaknya habitat manggrove, fauna dan flora lainnya juga akan ikut hancur. Makanya dari kasus-kasus yang telah terjadi di Babel ini khususnya, juga jangan heran kalau akhirnya ada berita biawak masuk rumah, ular termasuk buaya menyerang manusia. Karena habitat yang menjadi rumahnya telah dirusak oleh manusia,”sebut Fadilah Sabri Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (Fordas Babel)

Berkaca pula dari terjadinya penyerangan buaya terhadap manusia, menurut dosen ilmu teknik ini merupakan salah satu hal yang logis. Sebab hewan –hewan tersebut butuh makan, mencari tempat berlindung untuk bertahan hidup. Jadi termasuk juga buaya yang melakukan “penyerangan”terhadap manusia. Walaupun sebenarnya hal tersebut kata dia, sekali lagi bukan lah penyerangan, tapi lebih karena hewan-hewan itu lapar, apalagi ikan-ikan besar di sungai sudah tidak ada lagi. Dan ini adalah dampak dari semua yang terjadi. “ Jadi kita jangan menyalahkan siapa-siapa. Tapi tanyakan kenapa ini dibiarkan terus terjadi, bahkan saya sudah sering sekali membahas hal semacam ini,”ujarnya Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (Fordas) Provinsi Bangka Belitung, Ustad Fadilah Sabri.

Peristiwa naas penyerangan buaya terhadap wanita muda saat sedang melakukan aktivitas di salah satu kolong di Bangka Tengah beberapa hari lalu, contohhnya, kasus ini memang tak hanya sekedar membuat heboh dan takut warga, walaupun kejadian semacam ini juga kali terjadi, namun tetap saja menjadi kasus yang memilukan. Ustad Fadilah Sabri mengaku termasuk salah satunya yang turut mengungkapkan bela sungkawa kepada keluarga korban sekaligus prihatin.

Sebab kasus ini tidak bisa lepas dari akibat masif rusaknya lingkungan termasuk hutan dan juga sungai yang menjadi habitat buaya. Rektor Universitas Muhammadiyah (UNMUH) Babel satu ini dengan gamblang menjelaskan berbagai rasa keperihatinannya.

Begitu pun dengan makin terancamnya habitat dan juga populasi fauna seperti hewan endemik Bangka Belitung, salah satunya adalah burung punai. Termasuk buaya, ular dan sejenisnya yang kehilangan rumahnya, rantai makanan berkurang dan sebagainya, akibat kondisi lahan hutan yang sudah beralih fungsi jadi kebun, hunian manusia dan sebagainya.

“Makanya sekali lagi saya mengatakan bahwa kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) di Babel ini sudah sangat signifikan di Babel ini , bahkan saya juga sudah menulis dalam sebuah buku, terkait bagaimana akibat penambangan di Babel. Sebab di Babel ini di hutan lindung saja ada penambangan. Dan ini nyata karena kita sudah melakukan penelitian, datanya lengkap bahkan di daerah setiap kabupaten juga ada, karenanya bagi kami ini adalah satu kondisi yang miris hutan lindung saja di babat. Lalu bagaimana pula nasib hutan yang tak masuk hutan di lindungi,”katanya kembali mempertanyakan.(Humas/ UNMUH Babel)

No Comments

Add your review

Your email address will not be published.